KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAAH
Hadits ke-1
Pahala Shalat Berjama'ah Dilipatkan 27 Kali
"Dari Sayyidina Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu sesungguhnya Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda,"
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Shalat berjamaah 27 derajat lebih utama daripada shalat sendirian. "(H.R. Bukhari (645), Muslim (650), Tirmidzi, dan Nasa'i dari kitab At-Targhib)
Faidah
Jika seseorang mengerjakan shalat dengan niat ingin memperoleh pahala, jangan mengerjakannya dirumah, tetapi hendaknya mengerjakan dengan berjamaah di Masjid. Tanpa bersusah payah ia akan mendapatkan pahala yang jauh lebih besar.
Siapakah yang lebih suka mengambil 1 Rupee daripada mendapatkan uang 27 atau 28 Rupee? Hanya saja dalam masalah agama keuntungan sebesar ini tidak diperhatikan. Hal itu tidak lain karena kita tidak memperhatikan agama dan tidak menganggap keuntungan agama sebagai keuntungan.
Sepanjang hari kita bertebaran mengerjakan perniagaan dunia demi mengejar keuntungan 1 atau 2 Sen. sedangkan perniagaan akhirat yang keuntungannya 27 kali lipat, kita menganggapnya sebagai suatu musibah.
Pergi untuk shalat berjamaah ke masjid dengan meninggalkan toko dianggap sebagai suatu kerugian. Menutup toko ketika itu membuat hati tidak enak. Namun, bagi mereka yang mengagungkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, meyakini janji-janji-Nya, dan menghargai pahala-Nya tidak akan mengemukakan alasan sepele seperti ini.
Mengenai mereka, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan pujiannya dalam Alquran:
رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ
"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan shalat." (Q.S. An-Nuur : 37)
Dalam permulaan Bab Ketiga, ayat ini akan ditulis lengkap beserta terjemahannya. Dalam kitab Hikayatush Shahabah Bab Kelima, juga di tuliskan beberapa kisah tentang perilaku shahabat dalam perdagangan mereka saat adzan berkumandang.
Syaikh Salim Haddad Rahmatullah 'alaih, seorang sufi yang juga seorang pedagang, jika mendengar adzan, wajahnya akan berubah pucat. Ia akan segera bangun dan meninggalkan tokonya dalam keadaan terbuka sambil membaca syair:
Apabila muadzin-Mu berdiri adzan, maka bangunlah aku segera
Menyambut seruan yang maha besar yang tiada sesuatu menyerupai-Nya
Kujawab seruan itu dengan penuh ketaatan kepada-Nya
Dengan suka cita aku hadir, Wahai Pemilik segala karunia
Wajahku pucat karena ketakutan Kepada-Mu
Karena sibuk menunaikan perintah-Mu
Aku berpaling dari segala pekerjaanku
Aku bersumpah dengan kebenaran-Mu
Tiada yang lebih lezat daripada mengingat-Mu
Dan Tiada kelezatan sedikitpun di bibirku selain menyebut asma-Mu
Bilakah hari-hari yang akan mempertemukan diriku denganmu?
Seorang kekasih hanya akan berbahagia selalu
Jika senantiasa bersama dengan yang dirindu
Ia yang matanya telah menatap keindahan-Mu
Akan mati dengan kerinduan Kepada-Mu
Dan tidak akan tenang sebelum berjumpa dengan-Mu
(Dari Kitab Nuzhatul Basatin)
Hadits lain menyebutkan, "Barangsiapa selalu berkumpul di masjid, maka dia adalah pasaknya. Para Malaikat akan menjadi Shahabatnya. Jika ia sakit, Para Malaikat akan menjenguknya. Jika ia punya keperluan, Para Malaikat akan membantunya. "(H.R. Hakim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar